Review Where Winds Meet harus diawali dengan pengakuan bahwa game ini adalah proyek yang ambisius.
NetEase membuat sebuah game online MMO yang juga menawarkan cerita solo ratusan jam, plus beragam mode permainan untuk audiens berbeda.
Melihat trailernya, ada elemen yang mengingatkan pada Ghost of Tsushima dalam hal pertarungan pedang dan eksplorasi, sementara tingkat kesulitannya kadang terinspirasi dari game bergenre Souls.
Masalahnya, ambisi besar ini membuat Where Winds Meet terasa seperti “master of none”, serba bisa tapi tidak unggul di satu bidang spesifik.
Pertarungan pedangnya memang solid dan responsif, menuntut pemain untuk memahami timing blok dan parry.
Hal menariknya, game ini punya tingkat kesulitan yang bisa diatur untuk mode solo, dengan level termudah (Story) menawarkan QTE untuk mempermudah parry, sebuah tutorial yang berguna sebelum terjun ke mode multiplayer yang lebih brutal.
Eksplorasi yang Menakjubkan

Eksplorasi di jam-jam awal terasa standar, hanya mengandalkan lompatan biasa dan double jump untuk mencapai area tertentu.
Namun, segalanya berubah setelah sekitar lima jam, saat kamu akhirnya mendapatkan kuda. Berkuda menjelajahi dunia Where Winds Meet adalah pengalaman yang memuaskan.
Kamu bisa menikmati pemandangan indah, membuka peta, dan menghindari pertempuran yang tidak diinginkan dengan lebih mudah.
Game ini juga punya puluhan mini-game yang ditemui selama perjalanan. Meski kebanyakan terasa biasa saja dan opsional, ada momen-momen unik yang sangat menghibur.
Misalnya, sistem belajar jurus dengan mengamati musuh atau binatang dari kejauhan. Salah satu favorit adalah kemampuan di awal game untuk meniru gerakan beruang lalu menggunakan Tai-Chi untuk menghempaskannya.
Cerita yang Dibuat Panjang

Dari sisi cerita, review Where Winds Meet pada 20 jam pertama masih terasa seperti pengantar. Narasinya menggunakan template klasik Wuxia tentang balas dendam, namun terasa ada sesuatu yang lebih gelap yang sedang dibangun.
Adegan tertentu di awal cerita bahkan cukup berani dan mengejutkan. Dengan janji cerita solo selama 120 jam, game ini jelas tidak terburu-buru.
Dunia yang ditawarkan sangatlah masif. Jika setiap area sama padatnya, maka game ini akan memakan waktu sangat lama untuk diselesaikan sepenuhnya.
Belum lagi dengan adanya mode PvP online, raid PvE, dan sistem guild yang menambah nilai jam bermain.
Kekurangan di Balik Potensi Where Winds Meet

Di balik potensinya, Where Winds Meet punya beberapa kelemahan mendasar. Pertarungan melawan bos, misalnya, terasa terlalu berbeda dari gaya pertarungan biasa.
Satu bos awal memiliki mekanik dimensi lain yang keren, tapi gayanya tiba-tiba berubah seperti boss di Dark Souls atau Elden Ring. Meski menantang, peralihan gayanya terasa janggal dan tidak menyatu dengan baik.
Masalah penerjemahan juga sangat terasa. Kalimat yang tidak gramatikal, struktur kata yang kacau, dan pilihan kata di menu yang membingungkan.
Secara terpisah, masalah-masalah ini mungkin bisa ditoleransi. Namun ketika terjadi bersamaan, bisa membuat pemain ingin berhenti bermain.
Kesimpulan: Permata Kasar yang Butuh Pemolesan

Review Where Winds Meet berakhir dengan kesan yang kompleks. Di satu sisi, ada hati dan jiwa yang terlihat jelas di balik game ini.
Pertarungan pedangnya menyenangkan, dunia terbukanya indah untuk dijelajahi, dan ceritanya menjanjikan kedalaman.
Di sisi lain, masalah teknis yang mengganggu, desain pertempuran bos yang tidak konsisten, dan kurangnya opsi gameplay seperti stealth membuat pengalaman bermainnya terasa mentah.
Intinya, Where Winds Meet adalah permata kasar yang punya potensi besar. Bagi penggemar genre Wuxia dan dunia terbuka, game ini bisa memberikan pengalaman unik.
Namun, bagi yang menginginkan pengalaman yang sudah halus dan bebas bug, mungkin lebih baik menunggu patch perbaikan dari developer terlebih dahulu. Game ini layak dicoba, tetapi bersiaplah untuk menemukan beberapa duri di tengah petualangannya.


